Selasa, 14 Februari 2012

HARI KASIH SAYANG, KOK DILARANG? -The Bloody Valentine-

2 Days left before Valentine Days Being Celebrate! Think about it now or You'll be Disappointed later!


KISAH NEGERI ZLATA FILIPOVIC

Gadis Malang Bosnia Herzegovina

Zlata Filivopic lahir di Sarajevo, 3 Desember 1980. Ia anak tunggal dari kedua orangtu asli Muslim Sarajevo. Ayah Zlata seorang pengacara. Ibunya ahli kimia. Sebelum terjadinya serangan Kristen Serbia terhadap Muslim Bosnia Herzegovina di bulan April 1992, saat bulan Ramadhan 1412 H, keluarga Zlata termasuk keluarga yang berkecukupan, walau belum bisa dibilang kaya raya.

Sebagai keluarga Muslim, keluarga Zlata, seperti juga keluarga Muslim Bosnia lainnya sebelum perang tidak menampakkan identitas keislamannya secara mencolok. Yang perempuan tidak memakai kerudung atau jilbab, yang laki-laki juga tidak berpakaian seperti seorang Muslim. Islam bagi mereka hanyalah identitas. Mereka adalah warga Eropa, setelah itu baru muslim.

Bosnia sebelum perang adalah negeri yang sangat damai. Kehidupan berjalan dengan tenang dan tenteram. Walau layoritas Muslim, banyal dari orang dewasa Bosnia yang tidak mengerjakan sholat. Gadis-gadisnya juga biasa pergi ke diskotik atau bar dan mengonsumsi minuman beralkohol. Tidak nampak perbedaan menyolok antara yang Islam dengan yang bukan Islam. Antara yang Muslim dengan yang bukan bersahabat dengan erat.

Ketika hari Natal, hampir seluruh warga Bosnia merayakannya, tak peduli Muslim atau bukan. Ketika lebaran pun demikian. Anak gadis Bosnia sebelum perang terbiasa dengan segala momen-momen Barat seperti Hari Valentine, April Mop, dan sejenisnya. Bosnia adalah warga Eropa.

Zlata menulis dalam buku hariannya hari Sabtu, 14 Deember 1991. “Hari , aku merayakan ulang tahun kesebelas besama teman-temanku. Sebelas hari terlambat. Tapi rasanya seperti ulang tahun betulan. Kami bermain tombola, kuis, dan menikmai kue berbentuk kupu-kupu. Aku berhasil memadamkan kesebelas lilin sekali tiup. Kami bersenang-senang...”

Di hari yang lain, dalam suasana natal, Zlata menulis, “Kamis, 19 Desember 1991, Di sarajevo-Dubrovnik’. Dalam paket yang kami kirimkan kepada Srdjan, kami tambahkan hadiah khusus untuk Hari Natal bagi seorang anak Dubrovnik, entah siapa namanya...” Zlata, seorang remaja Islam turut mengirim hadiah Natal. demikian yang kami lihat di Televisi- dimulai apa yang disebut kegiatan ‘Bantuan Sarajevo untuk anak-anak

Sehari setelah Natal, Zlata kembali menulis di buku hariannya, “kamis, 26 Desember 1991,...Kemarin, Hari Natal. Kami pergi ke rumah M&M (martina dan Matej). Suasananya sangat meriah. Pohon cemaranya indah. Belum lagi hadiah-hadiah Natal dan hidangan lainnya... Di sini, kami berada di ruangan yang hangat, lengkap dengan hiasan dan hadiah Natal di segala sudut, segala jenis hidangan dan minuman lezat... Sebentar lagi Tahun Baru. Suasana akhir tahun tidak seperti biasanya. Papa dan mama, begitu pula teman-teman adan saudara2 lainnya, tidak ingin merayakannya seperti yang seharusnya. Kami bahkan nyaris tidak membicarakannya...”

Keluarga Muslim Zlata juga mendirikan pohon cemara Natal di rumahnya. “Senin, 30 Desember 1991, Pohon Cemara telah selesai dihias. Aku pergi berbelanja bersama Mama. Kami membeli hadiah untuk keluarga dan teman-teman. Semua hadiah itu kami bungkus dengan indah, dan untuk setiap orang kami menulis sehelai kartu. Sesudahnya, semua hadiah itu keletakkan di bawah kaki cemara. Indah sekali....Kurasa untuk pesta tutup tahun kali ini terpaksa kami lewatkan bertiga saja, at home..”

“ Sabtu, 4 Januari 1992,...untuk Tahun Baru, aku mendapat hadiah topi dan sarung tangan berjambul. Lucu dan manis. Sudah ya! Salam!”

Zlata dan keluarganya adalah potret keluarga Muslim Bosnia kebanyakan. Di Indonesia, orang akan menyebut keluarga seperti itu sebagai keluarga sekuler atau “Islam KTP”. Namun bagi musuh-musuh Islam, identitas keislaman itu sudah menjadi cukup alasan untuk menghabisinya. Identitas keislaman mereka yang minimal itu sudah cukup untuk membakar dendam kesumat di dada para pemimpin Kristen Serbia. Sepanjang tahun mereka menanti-nantikan saat yang tepat untuk menyerang Muslim Bosnia dan menghabisi etnis Muslim Eropa tersebut. Walau orang-orang Musil “sekuler” itu juga ikut-ikutan merayakan berbagai hari raya umat Kristiani atas nama toleransi dan kerukunan antar umat beragama.

Ketika Presiden Yugoslavia meninggal dan negara federal Yugoslavia goyah akibat pertikaian antar daerah, Kristen Serbia di bawah pimpinan Slobodan Milosevic, seorang pemipin fasis yang melebihi kekejaman Adolf Hitler, melancarkan perang besar-besaran demi mewujudkan ambisi gilanya mendirikan Serbia Raya yang akan menghimpun eluruh negeri yang tadinya berada dio bawah Yugoslavia.

Dengan amat bernafsu, Milosevic memerintahkan tentaranya untuk menghabisi etnis Muslim Bosnia (Genocide) dengan cara apa pun, termasuk aksi pemerkosaan sistematis.

Muslim Bosnia yang tadinya tidak begitu memperdulikan nilai-nilai Islam terhenyak kaget bukan kepalang. Teman, saudara, dan anggota keluarga yang beragama lain yang tadinya sangat akrab, Natalan bersma, Valentinan bersama, dan sebagainya kini berbalik menyerang dan membunuhi mereka. Alasannya hanya satu : karena mereka Muslim. Seolah-olah menjadi Muslim adalah dosa yang tak terampuni.

Orang- orang Bosnia dengan cepat menjadi sadar, wlaupun terlambat, bahwa mereka adalah Muslim. Seathun dua ahun, pembersiha etnis Muslim Bosnia membuat mereka kembali kepada nilai-nilai dasar keislaman yang hakiki.

Di tengah puing-puing bagunan yang hancur, di tengah desingan peluru dan ledakkan mortir, di tengah kepiluan tangisan korban pemerkosaan, Muslim Bosnia kembali mendekap erat identitas nenek moyangnya selama ini. Yang perempuan kembali memakai jilab dan kerudung, para lelalki sambil menenteng senjata mulai kembali sholat, adzan mulai bergema di sela-sela gedung-gedung yang ambruk, kiotab suci Al Qur’an yang telah lama dibiarkan teronggok di lemari kembali dibuka dan dibaca, dengan lelehan air mata kesedihan. “ Ya Allah, mengapa kami baru tersadar setelah bencana ini datang...?”

Kepada penulis, Nermina Jasarevic, aktivis Relief International Bosnia yang berkeliling ke sejumlah negara Muslim guna menggalang solidaritas Bosnia menyatakan, “Berpuluh tahun kami hidup berdampingan dengan saudara-saudara kami yang berlainan agama, kami sangat toleran, tapi semua kebaikan kami debalas dengan amat sangat pahit. Mudah-mudahan ini menhadi pelajaran bagi kami untuk tidak pernah lagi meninggalkan Islam.”

Dengan kedua mata berkaca-kaca , Muslimah Bosnia itu berpesan, “Semoga apa yang bangsa kamo alami, tidak dialami juga oleh bangsa-banmgsa Muslim lainnya. Biarlah Bosnia menjadi hikmah bagi kita semua, insya Allah, bangsa Bosnia bisa bangkit kembali...”

Indonesia, negeri Muslim mayorias terbesar di dunia terletak puluhan ribu kilometer dari Bosnia, sekarang tengah meniti jalan yang nyaris serupa dengan Bosnia. Banyak keluarga Muslim namun jahil terhadap keislamannya. Banyak remaja Muslim, berkerudung pula, ikut-ikutan merayakan HariValentine atau Natalan bersama. Sama seperi Bosnia, dmi toleransi dan kerukunan antar umat beragama..

Padahal, tragedi Bosnia dalam skala kecil sempat terjadi di ambom beberapa tahun lalu. Ribuan Muslimah Ambon juga diperkosa dan dibunuh dengan biadab oleh separais salib RMS. Jihad sempat berkumandang di tanah Maluku. Kini gaungnya telah sirna. Begitu cepat umat Islam melupakan pelajaan yang sangat berharga dan sangat mahal itu.

Sekarang, banyak dari kita, keluarga dan remaja Muslim masih terlena dan asyik dengan kejahilan kita. Atas nama toleransi dan pluralisme, akidah diabaikan. Bila ini terus dibiarkan, tidak lama lagi tragedi yang menimpa Muslim Bosnia akan mendatangi kita. Cepat atau lambat. Semuanya berpulang kepada kita semua, akankah kita akan sadar dan mau berubah?

Jauh-jauh hari, dengan kebencian yang sangat musuh-musuh Islam telah mencanangkan gerakan unuk menjauhkan Islam dari umat Islam. Samuel Zweimer, Ketua Asosiasi Jaringan Yahudi ketika membuka Konferensi Yerussalam di ahun 1935, di depan rausan wakil Yahudi seluruh dunia berpidato :

“ Tugasmu adalah mengeluarkan kaum Muslimin dari Islam, jadikan mereka lalai dalam memperhankan Islam. Jadikan mereka memiliki moral yang rendah dan mengenyampibgkan watak yang luhur...Saudara telah mengeluarkan kaum Muslimin dari agama mereka, meski mereka tetap enggan memakai baju Yahudi atau Kristen. Kita telah berhasil menjadikan para pemuda Islam menjadi generasi yang enggan bekerja keras, malas, dan senang berfoya-foya, mengejar nafsu syahwa, mengejar hara untuk memuaskan nafsunya dan juga memburu jabatan untuk menggapai kekayaan materi...lanjutkan perjuanganmu demi agama kita!”

Negeri Bosnia telah memberi pelajaran kepada kita, umat Islam, bahwa musuh-musuh Allah SWT senantiasa mencari kesempatan untuk menghancurkan kita. Pertama kali yang mereka lakukan adalah merusak pemikiran umat Islam dengan serangan budaya dan pemikiran ( Ggouzwul fikri). Ditanamkan ke kepala generasi muda Islam bahwa merayakan hari Valentine , Natalan bersama, dan sebagainya merupakan hal yang lumrah, yang dilakukan oleh berjuta remaja seusia mereka di dunia. Kepada generasi muda Islam dikatakan bahwa seluruh umat Kristen merayakan Natal pada tanggal 25 Desember, padahal umat Kristen sendiri berselisih mengenai Natal dan tidak ada sau ayat pun di dalam Bibel yang menganjurkan Natal!

Ketika serangan pemikiran dan serangan budaya mereka telah menuai hasil yang memuaskan, maka mereka mencari momentum yang tepa unuk melancarkan serangan milier untuk menghabisi generai Islam, seperti apa yang elah terjadi di Bosnia Herzegovina.

Sudah saatnya remaja Islam Indonesia sadar akan maksud-maksud tersembunyi di balik budaya-budaya Bart yang masuk ke negeri ini. Semoga buku kecil ini bisa menjadi pemantik kesadaran yang pada akhirnya menjadikan generasi muda Islam sebagai generasi yang tegar dan kokoh menghadapi segala ujian di dunia yang memang bera dan melelahkan. 
»»  READMORE...

Kamis, 02 Februari 2012

Memaknai Syahadat Kita


Tau kah kita syahadat itu apa? Mungkin kita sebagai umat Muslim hanya menganggap syahadat itu hanyalah suatu kebiasan kita. Namun, tahu kah kita makna sebenarnya makna dari syahadat yang selama ini tiap hari kita ucapkan.
Beberapa poin penting yang bisa kita ambil dari syahadat yaitu:
1. Syahadat itu merubah kehidupan manusia dari yang jahil menjadi manusia yang bersedia mempersembahkan seluruh kehidupannya kepada Allah dan Rasulullah.

2. Kalimat syahadat itu baru bermakna jika telah tertanam di hati kita, namun jika tidak maka tidak akan bermakna apa-apa.

3. Tidak ada satupun makhluk yang ada di muka bumi ini melainkan rezekinya telah ditetapkan oleh Allah SWT.

4. Yakinlah sepenuh hati kepada Allah terhadap apa yang telah ditentukan oleh-Nya.

5. Iman yang sudah terhujam di dalam hati itu harus ada buktinya, seperti Cinta.

Kalo berbicara masalah Cinta mungkin banyak dari kita sudah tahu Cinta itu apa. Namun tahu kah kita makna cinta yang sebenarnya itu?
Cinta yang sebenarnya itu adalah cinta kepada Allah, yaitu dengan menjalankan segala perintahNya & menjauhi segala laranganNya.

6. Jika syahadat seseorang belum bisa merubah keadaan seseorang menjadi lebih baik maka syahadatnya masih perlu dipertanyakan.

7. Cinta pada diri kita seharusnya tidak diberikan kepada yang lain sebelum kepada Allah SWT.

8. Cinta kepada Allah akan tumbuh jika ada rasa ikhlas dalam diri kita.

8. Orang mukmin itu hanya berharap kepada Allah dan harapan itu sangat besar.
»»  READMORE...

Selasa, 27 Desember 2011

Lanjutan "Permasalahan Pemuda Islam Saat Ini"


Mungkin banyak dari kita bertanya mengapa musuh-musuh Islam tersebut lebih banyak menyerang para pemuda Islam? Itu tidak lain adalah untuk menghancurkan Islam dengan menggunakan sistem yang sering kita dengar, yaitu perlahan tapi pasti. Kenapa saya berkata demikian, karena ada pepatah mengatakan "Pemuda hari ini Pemimpin hari esok". Dan inilah yang memang menjadi target utama mereka dan terbukti sudah banyak dari teman kita yang berhasil disesatkan.

Fenomena yang saat ini makin marak muncul yaitu fenomena boy/girl band yang menampilkan gaya alay yang sungguh tidak pantas untuk ditonton apalagi ditirukan oleh para pemuda muslim. Bagaimana tidak, selain menampilkan gaya rambut dan cara berpakaian yang sungguh tidak pantas mereka juga dengan antusias bernyanyi dan bergoyang bagai penari jaipong. Mungkin bagi sebagian orang itu adalah hal yang wajar karena mengikuti trend yang saat ini sedang berkembang. Tapi sungguh, perbuatan itu sungguh dibenci oleh Allah karena telah banyak memberikan mudarat bagi pemuda Islam.

Melalui media-media seperti inilah mereka ingin menjauhkan para generasi penerus Islam dari beribadah kepada Allah Tuhan yang sepatutnya kita sembah. Dengan adanya media-media tersebut mereka semakin leluasa dalam menyebarkan visi dan misi mereka secara tidak langsung.

Namun, bukan berarti kita para pemuda Islam tidak bisa berbuat apa-apa untuk menantang dan membentengi diri kita dari masalah ini. Seseorang pernah berkata bahwa yang penting pada saat kita menggunakan suatu media itu adalah tujuan awal kita, bukan seperti apa media yang kita gunakan.

Dan bagi kita pemuda Muslim, mengapa kita tidak memanfaatkan media yang telah dibuat oleh musuh-musuh Allah ini untuk kembali menegakkan dan mengajarkan syariat Allah SWT yang sesungguhnya. Bukankah itu juga adalah salah satu bentuk perhatian kita terhadap Agama Islam yang kita cintai ini. Kita dapat menggunakan media ini tidak hanya sebatas di kalangan muslim saja. Akan tetapi media ini juga dapat kita gunakan untuk membuktikan kepada dunia apa sebenarnya Islam itu.

Mungkin kita sudah sering mendengar cacian dari orang-orang bahwa Islam itu identik dengan teroris. Lalu kemudian bagaimana respon kita terhadap tanggapan seperti ini? Mungkin dalam benak kita tidak sependapat. Tapi apakah yang berani kita katakan pada orang yang tadi berpendapat demikian?
Kalo menurut kita Islam itu adalah agama yang rahmatan lil 'aalamin (rahmat bagi semesta alam), kenapa kita tidak berani meyakinkan mereka?

Dan yang juga menjadi fenomena saat ini yaitu apabila ada dari saudara dan saudari muslim kita yang senantiasa menjalankan syariat Islam secara konsisten, mereka malah divonis dengan alih-alih menjalankan aliran sesat. Apakah kita sebagai saudara mereka hanya bisa menerima perkataan tersebut dengan hati yang lapang dada? Atau justru kita hanya bisa terdiam melihat saudara dan saudari kita yang sedang mengalami kejadian seperti ini?

Demi Allah, seseorang yang tidak mencintai saudaranya sesama muslim karena Allah maka Allah SWT juga tidak akan mencintainya. Dan sebagai pemuda Islam sebaiknya kita malah geram dengan tindakan yang seperti ini.
»»  READMORE...

Permasalahan Pemuda Islam Saat Ini


Aslm wr wb..
Alhamdulillah tidak henti-hentinya kita ucapkan seraya bersyukur kepada Allah Rabb kita semua yang sampai saat ini masih begitu menyayangi kita melalui banyak nikmatnya yang tidak dapat kita hitung lagi.
Shalawat serta salam sewajarnya kita kirimkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, beliau adalah kekasih Allah yang seluruh hidupnya dibaktikan untuk beribadah kepada Allah dan mengajak orang-orang untuk ber-amar ma'ruf nahi mungkar.

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi pengalaman dari sebuah buku yang berjudul "Selagi Masih Muda" karya Dr. 'Aid Al Qarni yang juga penulis buku best seller "Laa Tahzan". Memang ketika awalnya melihat sampul buku ini terasa kurang menarik, namun karena tertarik akhirnya saya mencoba membaca sedikit dari buku ini. Dan alhamdulillah melalui rasa penasaran saya atas buku ini akhirnya mendapatkan manfaat yang cukup banyak.

Beberapa diantaranya yaitu di dalam buku ini memang yang paling banyak disinggung adalah pemuda, yaitu pemuda Islam saat ini. Bagaimana tidak, kita sebagai pemuda Islam yang sebenarnya mempunyai banyak keistimewaan dan kelebihan dibandingkan dengan pemuda-pemuda lainnya, saat ini seakan tertidur oleh gemerlapnya dunia ini. Jika kita lihat di berbagai pemberitaan tidak sedikit dari teman-teman kita yang terjerumus dalam kesia-siaan perbuatan dunia ini.

Berbagai contoh telah dapat kita lihat dengan mata kepala kita sendiri. Mulai dari kebiasaan bergaul anak muda jaman sekarang yang bergaul sudah tidak mengenal hijab, tidak mengenal waktu (batas-batas komunikasi antara pria dan wanita), kebiasaan merokok, minum-minuman keras, dan lain lagi yang jumlahnya sudah tak terhitung lagi. Apakah itu hanya kebetulan? Tentu saja tidak saudaraku. Sebenarnya kita semua telah berusaha untuk dijauhkan dari nilai-nilai luhur keislaman kita yang sama sekali tidak pernah mengajarkan hal yang demikian.

Dan salah satu penyebab yang paling utama adalah media. Umat-umat diluar agama kita berusaha menjauhkan kita dari nilai luhur Islam melalui media massa saat ini seperti komputer, tv, radio, majalah, dan lain sebagainya. Sebab kata umat-umat tersebut jika mereka ingin mengadakan peperangan secara langsung dengan umat Islam seluruhnya niscaya mereka tidak akan menang. Mereka sudah terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk membuat kapal perang yang canggih, tank-tank dari baja, rudal-rudal pemusnah massal hanya untuk melawan umat Islam yang tujuan intinya untuk menjauhkan kita dari nilai-nilai murni ajaran agama Islam.

Melalui sistem media yang mereka jalankan ini, mereka begitu sukses dalam mendoktrin teman-teman kita yang senantiasa diiming-imingi kenikmatan duniawi. Mereka senantiasa dibiasakan dengan kehidupan yang jauh dari ajaran Islam seperti membaca dan menonton media porno, berkata-kata dusta dan tidak sesuai aturan, berprilaku semena-mena terhadap orang lain, dan msaih banyak lagi dari perbuatan yang memang diajarkan langsung oleh iblis Laknatullah ini.

Bersambung di postingan selanjutnya Insya Allah..
»»  READMORE...

Kamis, 22 Desember 2011

Lakukan Apa Yang Bisa Kita Lakukan Saat Ini


Tiap orang kadang merasa hidupnya hampa, bingung harus mengerjakan apa. Bedanya ada
orang-orang yang sebenarnya menyadari apa hakikat hidup ini dan ada pula yang tak mengerti kehadirannya di dunia ini untuk apa.
Orang yang sadar bahwa tujuannya di ciptakan adalah khalifah fil ardhi, menjadi khalifah di muka bumi. Beribadah, apapun yang di lakukannya di upayakan memiliki nilai ibadah. Jika pun kadang ia menjadi hampa, itu hanya suatu warna tersendiri yang menjadi sebuah masa rehat untuk memikirkan apa yang akan di lakukan selanjutnya. Bukan lena untuk jangka panjang dan kebingungan tanpa sebab dan akibat.
Sedang yang belum paham akan kehadirannya di muka bumi, biasanya akan kurang menghargai nilai usia yang di berikan Allah. Untuk langkahnya pun kadang ia tak paham mengapa ia lakukan dan untuk apa di lakukan.
Bisa jadi, aku dan kau merasa berada pada dua kondisi di atas. Ketika pada satu masa berada di titik puncak semangat menjadi hamba Allah yang bertaqwa, hati kita berbunga-bunga, senyum selalu tersirat karena kita mampu melaksanakan peran sebagai seorang hamba dengan baik. Tapi di masa lain, karena suatu sebab kita berada pada di titik terendah kelemahan sebagai manusia yang bingung hendak melakukan apa dan melangkah ke mana.
Suatu keadaan yang normal, jalani saja. Asalkan jangan sampai kita terlena terlalu lama tanpa mencari pengobar semangat lainnya.
Sebelum menjadi paham, kita adalah hamba yang tak mengerti. Tapi dengan di iringi rasa keingintahuan tentang hakikat penciptaan manusia maka perlahan kita akan bisa menjalani kehidupan lebih bermakna.
Setelah paham akan hakikat penciptaan manusia, sering kita bingung. Merasa tak memiliki kemampuan apapun yang di gunakan sebagai sarana untuk menyampaikan kebenaran.
Tak perlu kita berharap menjadi seorang dai ternama yang mampu mengajak jutaan ummat ke jalan hidayah. Jika kita memang belum mampu untuk melakukan semua itu. Perlahan saja kita lakukan dengan apa yang kita bisa dan kita miliki. Sesuai dengan bidang yang kita kuasai.
Jika kamu bisa menulis, upayakanlah menulis sesuatu yang mampu mengajak orang lain pada cahaya Islam. Mengenal Allah dan RasulNya. Jika kamu penyanyi, nyanyikanlah lirik lagu yang bernafaskan Islam. Amar ma’ruf nahi munkar. Jika kamu senang mendaki gunung, jadikanlah pendakian itu menjadi sarana dakwah bagi teman seperjalananmu dan orang-orang yang kau temui di gunung. Juga sebagai sarana menjaga habitat alam tanpa merusaknya sedikit pun. Jika kau seorang guru, manfaatkanlah kewibawaanmu untuk mendekati murid-muridmu dari hati ke hati. Ajarkan mereka jika mereka menyimpang. Luruskanlah mereka jika mereka bengkok.
Lakukan sebisa kita, Allah menitipkan berbagai kemampuan bukan semata hanya untuk kepentingan dunia dan melupakan akhirat. Jemput keberkahan dengan memaksimalkan kemampuan dan pekerjaan kita semata-mata agar bernilai ibadah. Karena langkah seribu di mulai dari langkah pertama. Pelan-pelan kita jalani.
Paling tidak, dengan melakukan sesuatu yang kita senangi maka tak ada keterpaksaan dalam hati. Hanya dengan meluruskan niat, jadi apa yang kita lakukan bisa menjadi lading amal untuk bekal kelak. Walaupun nantinya kita lelah, akan cukup beristirahat sejenak kemudian melanjutkan perjalanan mengumpulkan keridhaan Allah dalam jejak langkah kita.
Tanpa ada praktek penghambaan kepada Allah. Bisa di pastikan betapa keringnya hidup ini. Layaknya daun kering kurang pengairan, maka akan meranggas perlahan. Begitu pun hati kita, jika tak di basahi dengan amal kebaikan maka hati akan menjadi mati.
Hidup hanya menjadi suatu kefanaan. Monoton. Karena yang di lakukan hanya untuk dunia dan dunia. Tiap harinya hanya berfikir bagaimana meraih dunia. Jika pun secara fisik nampak kebahagiaan. Secara tak kasat mata, ada hati yang mencari suatu kebahagiaan sejati, yang pastinya bukan pada dunia melainkan hanya Allah Azza Wajalla.
Di mulai dengan sedikit berfikir tentang akhirat. Di mulai dengan melakukan sedikit untuk amal kebaikan untuk bekal di akhirat. Maka kelamaan akan menjadi suatu candu. Lakukan saja. Di mulai dari sedikit yang kita bisa daripada tidak melakukan sama sekali. Bukan kuantitas yang Allah lihat. Bukan ketenaran di mata manusia yang Allah nilai. Tapi bagaimana usaha kita untuk sungguh-sungguh menjalankan misi di dunia ini menjadi khalifah fil ardhi dan mempraktekkan penghambaan hanya kepada Allah.
Allahu’alam.
»»  READMORE...

Rabu, 21 Desember 2011

Memulai Kebiasaan Baik


Alhamdulillah sampai saat ini Allah masih memberikan banyak nikmatnya kepada kita semua. Shalawat serta salam senantiasa kita kirimkan kepada junjungan kita Rasulullah SAW.

Menulis, mungkin banyak diantara kita yang beranggapan menulis itu adalah hal yang sulit. Dan pada awalnya saya juga beranggapan seperti itu,hehe. Namun sebenarnya tanpa kita sadari kita semua ini adalah penulis yang handal. Jika kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, saat ini hampir tidak ada lagi orang yang tidak menggunakan hp, baik dari keluaran yang paling canggih dan mahal sampai kepada hp yang sudah tergolong sangat murah.

Nah melalui alat komunikasi yang satu inilah kita dapat melihat antusias dan aktivitas menulis yang cukup tinggi di kalangan masyarakat saat ini. Baik melalui sms (pesan singkat) yang dapat dilakukan pada semua hp sampai kepada fitur-fitur menulis di dunia maya (twitter, facebook, maupun blog) melalui hp yang sudah cukup canggih.
Sebagai aktivis dakwah, kita juga harus pandai-pandai dalam melihat peluang dakwah, salah satunya melalui media menulis ini.

Tidak sedikit para pejuang dakwah berhasil menjalankan tugas mulia ini melalui tulisan-tulisan mereka yang memang sungguh luar biasa memberikan motivasi dan informasi mengenai Islam. Untuk menjadi seorang penulis tidaklah dibutuhkan uang dan harta yang berlimpah, waktu yang banyak, dan fasilitas-fasilitas lainnya lg. Yang paling penting adalah semangat kita untuk berbagi kepada orang lain melalui hasil pemikiran kita yang dituangkan lewat tulisan.



Dan dari yang saya pelajari kiat yang paling penting untuk menjadi seorang aktivis dakwah yang berjuang melalui tulisan adalah memulai menulis. Sebab banyak orang yang saat ini belum berani untuk menulis karena terlalu memikirkan bagaimana tulisannya itu kelak. Dan yang juga tidak kalah pentingnya jangan sampai melupakan tujuan awal kita untuk berdakwah melalui tulisan. Ini sesuai dengan hadits dari Rasulullah yang berbunyi "Inna mal a'maalu bin niat" yang artinya sesunggunya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya.

Mungkin diawal dari tulisan singkat saya ini cukup demikian dulu. Mohon kritik dan saran dari rekan-rekan sekalian. Waslm wr wb..
»»  READMORE...

Selasa, 20 Desember 2011

Masih Haruskah Berpacaran??


Allah memberikan rizki sesuai dengan kebutuhan hambaNya dan di waktu yang menurut Allah terbaik untuk kita mendapatkannya. Jodoh adalah salah satu rizki yang Allah persiapkan untuk kita.
Allah akan memberikan jodoh pada kita di saat yang tepat. Bukan sesuai dengan keinginan kita. Seringnya kita menginginkan sesuatu hanya berdasarkan pada keinginan bukan pada kebutuhan. Allah Maha Tahu, kapan kita akan siap untuk menerima sebuah tanggung jawab besar untuk membentuk suatu peradaban kecil yang di mulai dari sebuah keluarga.
Karena menikah bukan hanya penyatuan dua insan berbeda dalam satu bahtera tanpa visi dan tujuan yang pasti, berlayar tanpa arah atau berlayar hanya menuju samudera duniawi. Menikah adalah penggenapan setengah agama karena menikah adalah sarana ibadah kepada Allah. Dalam tiap perbuatan di dalam rumah tangga dengan berdasarkan keikhlasan dan ketaqwaan maka ganjarannya adalah pahala. Tapi jika menikah hanya berdasarkan nafsu atau bahkan mengikuti perputaran kehidupan dunia, maka hasilnya pun akan sesuai dengan yang di niatkan.
Karena menikah adalah ibadah. Menikah adalah sunnah di anjurkan Rasulullah. Menimbun pahala yang terserak di dalam rumah tangga. Dan semua manusia yang normal pasti akan mendambakan suatu pernikahan. Merasakan suatu episode hidup dimana kita akan memulai segala sesuatu yang baru. Yang dahulu kita berperan sebagai seorang anak dengan berbagai kebahagiaan bermandikan kasih sayang orang tua. Maka menikah adalah suatu gerbang menuju pembelajaran menjadi orang tua kelak. Kita bukan lagi sebagai penumpang di mana mengikuti arah kehidupan yang di tentukan orang tua, melainkan kita akan menjadi driver untuk kehidupan kita sendiri kelak. Kita bisa saja mengikuti jalur yang telah di lewati orang tua, jika memang itu jalur yang tepat. Tapi jika jalur itu tak sesuai dengan arah tujuan kehidupan rumah tangga kita yaitu jalur keridhaan Allah, maka kita pun harus mencari jalur yang tepat.
Karena menikah itu adalah satu kebaikan maka seharusnya harus di mulai dengan yang baik pula. Misalnya, ketika kita ingin lulus ujian, maka kita harus belajar yang giat bukan bermalas-malasan.
Ayat Allah masih jelas tertera dalam kitabNya, bahwa pria yang baik akan mendapatkan wanita yang baik pula dan sebaliknya. Dan ayat itu masih sama dengan pada saat Allah turunkan beribu tahun yang lalu. Janji Allah pun tergambar melalui ayat itu dan Allah Maha Menepati janji. Lalu mengapa kita masih meragukan janji Allah itu??
Masih haruskah berpacaran??
Mengenal lawan jenis dengan dalih untuk mengenal pribadi masing-masing. Padahal kenyataannya, hanya sedikit kejujuran yang di tampakkan pada saat pacaran. Rasa takut yang besar untuk di tinggal pasangannya atau hendak mengambil hati pasangannya membuat mereka menyembunyikan keburukan yang terdapat dalam dirinya. Sudah menjadi rahasia umum, jika usia pacaran yang lama tak menjamin bahwa itu menjadi suatu jalan untuk memuluskan hubungan menuju jenjang pernikahan. Sudah tak menjamin adanya pernikahan setelah sekian lama menjalin masa pacaran, juga banyak di bumbui pelanggaran terhadap rambu-rambu Allah. Maksiat yang terasa nikmat.
Zaman sekarang, berpacaran sudah selayaknya menjadi pasangan suami istri. Si pria seolah menjadi hak milik wanita dan si wanita kepunyaan pribadi si pria. Mereka pun bebas melakukan apapun sesuai keinginan mereka. Yang terparah adalah sudah hilangnya rasa malu ketika melakukan hubungan suami istri dengan sang pacar yang notabene bukan mahram. Padahal pengesahan hubungan berpacaran hanya berupa ucapan yang biasa di sebut “nembak”, misalnya “I Love You, maukah kau menjadi pacarku?” dan di terima dengan ucapan “I Love You too, aku mau jadi pacarmu”. Atau sejenisnya. Hanya itu. Tanpa adanya perjanjian yang kuat (mitsaqan ghaliza) antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Tanpa adanya akad yang menghalalkan hubungan tersebut. Hubungan pacaran tak ada pertanggungjawaban kecuali pelanggaran terhadap aturan Allah. Karena tak ada yang namanya pacaran islami, pacaran sehat atau apalah namanya untuk melegalkan hubungan tersebut.
Kita berlelah melakukan hubungan pacaran. Melakukan apapun guna menyenangkan hati sang kekasih (yang belum halal) meskipun hati kita menolak. Jungkir balik kita mempermainkan hati. Hingga suka dan sedih karena cinta, cinta terlarang. Hati dan otak di penuhi hanya dengan masalah cinta. Kita menangis karena cinta, kita tertawa karena cinta, kita meraung-meraung di tinggal cinta, kita pun mengemis cinta. Hingga tak ada tempat untuk otak memikirkan hal positif lainnya. Tapi sayang, itu hanya cinta semu. Sesuatu yang semu adalah kesia-siaan. Kita berkorban mengatasnamakan cinta semu. Seorang pacar, hebatnya bisa menggantikan prioritas seorang anak untuk menghormati orangtua. Tak sedikit yang lebih senang berdua-duaan dengan sang pacar di banding menemani orangtua. Pacar bisa jadi lebih tau sedang dimana seorang anak di banding orang tuanya sendiri. Seseorang akan rela menyenangkan hati pacarnya untuk di belikan sesuatu yang di suka di bandingkan memberikan kejutan untuk seorang ibu yang melahirkannya. Seseorang akan lebih menurut pada perintah sang pacar di banding orang tuanya. Hubungan yang baru terjalin bisa menggantikan hubungan lahiriah dan batiniyah seorang anak dengan orangtua.
Jika pun akhirnya menikah, maka tak ada lagi sesuatu yang spesial untuk di persembahkan pada pasangannya. Sebuah rasa yang seharusnya di peruntukan untuk pasangannya karena telah di umbar sebelumnya, maka akan menjadi hal yang biasa. Tak ada lagi rasa “greget”, karena masing-masing telah mendapatkan apa yang di inginkan pada masa berpacaran. Bisa jadi, akibat mendapatkan sesuatu belum pada waktunya maka ikrar suci pernikahan bukan menjadi sesuatu yang sakral dan mudah di permainkan. Na’udzubillah.
Parahnya jika tiba-tiba hubungan pacaran itu kandas, hanya dengan sebuah kata “PUTUS” maka kebanyakan akan menjadi sebuah permusuhan. Apalagi jika di sebabkan hal yang kurang baik misalnya perselingkuhan. Kembali hati yang menanggung akibatnya. Kesedihan yang berlebihan hingga beberapa lama. Hati yang terlanjur memendam benci. Tak sedikit yang teramat merasakan patah hati dikarenakan cinta berlebihan menyebabkannya sakit secara fisik dan psikis. Juga ada beberapa kasus bunuh diri karena tak kuat menahan kesedihan akibat patah hati.
Terdengar berlebihan. Tapi itulah kenyataannya, hati adalah suatu organ yang sensitif. Bisa naik secara drastis, tak jarang bisa jatuh langsung menghantam ke bumi. Apa yang di rasakan hati akan terlihat pada sikap dan perilaku. Hati yang terpenuhi nafsu akan enggan menerima hal baik. Ada orang bilang, jangan pernah bermain dengan hati. Karena dari mata turun ke hati, kemudian tak akan turun kembali. Akan ada sebuah rasa akan mengendap di dalam hati. Jika rasa itu baik dan di tujukan pada seseorang yang halal (suami atau istri) maka kebaikan akan terpancar secara lahiriah. Bukan sebuah melankolisme yang kini merajalela.
Banyak pelajaran dari sekitar. Kenapa masih harus berpacaran??
Karena ingin ada teman yang selalu setia mendengar tiap keluh kesah?? Tak selamanya manusia bisa dengan rela mendengarkan keluhan manusia lainnya. Hanya Allah yang tak pernah berpaling untuk hambaNya. Bisa jadi secara fisik sang pacar rela mendengar dengan seksama, tapi dia juga manusia yang akan merasa bosan jika selalu di cecoki dengan berbagai keluhan.
Malu di bilang jomblo??
Jika dengan jomblo kita bisa terbebas dari rasa yang terlarang, kenapa harus malu?? justru kita akan merasa nyaman bercengkerama dengan Allah karena sadar hati kita hanya patut di tujukan kepadaNya bukan yang lain. Justru kita harus bangga, di saat yang lain berlomba untuk melakukan hal terlarang tapi kita menjauhinya. Kemudian tak akan ada perasaan was was karena telah melanggar aturan Allah. Kita bebas berkumpul dengan kawan-kawan tanpa ada kekangan dari orang yang sesungguhnya tak memiliki kewenangan terhadap diri kita.
Mungkin masih banyak lagi kesia-siaan dalam berpacaran. Dan sesungguhnya belum tentu sang pacar akan menjadi pasangan kita kelak.
Pacaran ibarat minuman beralkohol, banyak yang mengelak bahwa dengan berpacaran mereka memiliki semangat baru dan sederet hal positif yang mereka kumandangkan. Tapi sama halnya dengan alkohol, maka manfaat yang di dapat jauh lebih kecil di banding kemudharatan yang di hasilkan. Karena segala sesuatu yang di larang Allah, pasti ada sebab dan manfaatnya.
Kemudian ada yang berdalih, toh pacaran itu tidak merugikan orang lain. Tidak merugikan orang lain, namun hukum Allah jauh lebih baik untuk di ikuti ketimbang menurutkan hawa nafsu yang berakhir pada jurang kebinasaan.
Kembali ke pernikahan, suatu kebaikan maka tak pantas jika di awali dengan keburukan. Allah tak akan ingkar janji, karena jodoh telah Allah tetapkan di Lauh Mahfuzh. Tinggal kita melakukan usaha yang baik, yang Allah ridhai. Supaya tiap langkah kita, hanya berisi keridhaan Allah dan mendapat keberkahanNya. Aamiin.
(hanya sebuah catatan hati guna pengingat diri dan saudara seimanku)
Allahua’lam

»»  READMORE...